Dear...

As simple as You created this world.
As meangingful as full as the happines can be.
As Light as feather taken by winds.

Writer

My photo
Bandung, West Java, Indonesia
I want everyone in Indoesia have the luxury of reading. Watching the world from a book.

Monday, October 12, 2009

Dear. Miss Smile

I know, you are farrr (with 3 r) smarter then any of us. Far-far-far.

Tapi, kalo belom punya karya kayanya ga ush ngoceh ya. You don't even finish your school in what age? Okay... People can split anything on book they wrote-anytime-anywhere. If you don't like it, ga usah beli kali...

Ngingetin aja ya karena you are far-far smart. Buku tuh ada genrenya. Kalo mau buku yang berat coba baca buku2 kuliahan, dijamin berat. Tapi buku yang pengen lo baca n ga pernah diselesein itu ngga usah dijudge brain-shit donk. They doin good. At least the writter put 100percent commitment in what their do. Unlike you who event don't think an academic commited.

Awh, I'm shitting my brain on my blog. Ga boleh ya? Hahahha cheers!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tuesday, October 06, 2009

Dear. Former-Future-Family.

Saya belum bisa melihat apa yang salah dengan diri saya sampai hari ini. Belum bisa melihat apa yang menjadi kriteria kalian memilih saya. Lalu membuang saya ke tempat sampah seperti kardus kulkas kosong. Kehilangan kalian masih sangat menyakiti hati saya. Luka di hati saya masih sangat pedih. Sampai tiba-tiba salah satu dari kalian menebar fitnah(lagi).

Hey, bangun.

Saya sudah tidak ada di dalam lingkaran hidup kalian lagi. Maka, saya tidak melihat apa perlunya kalian menyakiti saya lagi. Saya tidak perduli lagi. Dulu saya kira semua yang kalian katakan tentang saya itu adalah masukan untuk saya. Tapiternyata yang kalian bilang itu memang semata hanya untuk menyakiti saya. Dan kali ini saya benar-benar muak. Apapun yang saya lakukan pada diri saya sekarang samaekali bukan urusan kalian atau siapa-siapa yang dekat dengan kalian. Dan saya sudah tidak merasa tertarik lagi berbicara dengan siapapun salahsatu dari kalian. Saya merasa sakit dan sekarang saya sadar, rasa sakit saya ternyata tidak perlu.

GO TO HELL. I DONT NEED YOUR SORRY. I WILL REMEMBER AND NOT FORGIVING.

Monday, October 05, 2009

Dear.Myself

Should it be so hurt-hurt?

Gimana caranya menyerah sama keaaan. Tidak lari ketika angin menerjang lagi. Saya tahu saya bisa, saya yakin saya mampu. Tapi kali ini saya benar2 tidak bisa kuat lagi. Saya ingin berhenti jadi kuat. Saya ingin bersembunyi. Diam di suatu tempat. Tertidur lama sekali hingga suatu saat bangun dan menyadari semua hanya mimpi.

Tolong!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Dear.Life

Why should you be so unfair.

Kenapa saya tidak pernah diberi kesempatan memilih apa yang menurut saya baik. Haruskah selalu saya ada di bawah-menjadi balita setiap kali datang pilihan. Ketika kamu memilihkan semuanya yang menurutmu terbaik untuk saya.

Dan saya tidak ingin berkonfrontasi denganmu. Tidak pernah ingin. But you keep messing around with me. Please.

Tiap kali saya mengatur semua dalam susunan berurut tiap angka, tiap warna, kamu selalu menumpahkannya lagi mencampurnya lagi dan menyusunnya menurut aturanmu yang sungguh sangat acak. Sigh, lagi2 saya akui tiap kali. Lukisan itu semakin indah.

Huff... Tiap hisapan rokok kali ini semakin menyakitkan. Semakin banyak air mata yang turun.

Lagi, terakhir kali saya susun semua secara urut. Kamu campur lagi warnanya. Entah kenapa yang terakhir ini begitu rapi dan hati2 saya susun. Dan ketika kamu lagi-lagi menumpahkannya. Saya merasa sakit. Dan saya tidak tahu mau bilang apa pada siapa-siapa. Saya tidak pernah tau mau bilang apa pada siapa-siapa. Entah menyalahkan apa.

Kali ini saya tahu, lukisan yang kamu buat akan sangat-sangat indah.

Hingga nanti saya bisa melihat lagi tanpa terhalang airmata. Tolong buat lukisan itu sebaik-lebih baik dari yang pernah kamu kejutkan pada saya.

Sampai nanti saya bisa melihat lagi.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Friday, October 02, 2009

Dear.Future Me

Psikiater saya bilang saya masih dalam post-pain hurt. Ketika serious relationship saya memudar beberapa bulan yang lalu, saya hancur. Saya yang secara sadar memutuskan untuk berhenti. Saya juga yang menolak mentah opsi-opsi untuk kembali, melepaskan rekonsiliasi yang masih mungkin. Saat itu saya belum merasakan kehilangan. Lalu saat semua hilang seperti direnggut dari hati saya, saya baru merasakan pedih dan sakitnya.

Saya kehilangan pacar, sudah pasti. Tapi yang lebih menyakitkan dari itu semua adalah kehilangan keluarga. Papa yang dianggap kakek sendiri-karena dia udh tua yah. Kakak yang seperti saudara perempuan dan adik laki2 nakal yang accepting. Dan kehilangan mereka jauh lebih menyakitkan daripada putus cinta manapun yang pernah saya alami. Kehilangan keluarga.

Dan kini saya dihadapkan lagi untuk memulai kembali. Saya takut, dan saya tidak taju apakah saya akan melanjutkan langkah saya.

Ketika kamu sudah berhenti menjadi saya nanti, tolong ingatkan lagi betapa fragilenya kita. Dan betapa kuatnya kita juga.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, October 01, 2009

Dear. It Girl.

Sungguh tidak ingin sekali saya membuang amarah, bertindak tidak bijak. Aku tidak ingin perlahan-lahan berubah menjadi kamu. Menumpahkan amarah hingga bercecer dimana-mana. menyakiti orang yang seharusnya tidak tersakiti. Melukai hati yang tidak perlu terluka.

Saya hanya ini bercerita tentang kamu, karena beberapa hari ini kamu senasib dengan Paris Hilton yang dibicarakan semua orang. Bedanya Pariz Hilton dibicarakan karena dia hobi party dan menenteng tas seharga 1 mobil di Indonesia. Kalau kamu kebalikannya, dibicarakan karena lidah kamu yang tajam, melukai banyak orang, dan terlalu banyak bicara sehingga membuat kamu terlihat bodoh dan annoying-sorry.

Kamu, di mata saya ngga lebih dari perempuan yang sering kamu hina-ejek-maki di tulisan-tulisan kamu. Kamu penulis luar biasa yang tulisannya seluarbiasa cara kamu bertutur-dalam ungkapan sarkas. Pernahkah kamu sedikit saja berpikir tentang orang lain yang bukan kamu? Yang butuh kenyamanan tanpa harus terus dihakimi dan diingatkan kalau kamu itu yang paling pintar-cantik-benar. Ataukah kamu begitu bangga dengan kenegatifanmu yang kamu kira menjadi aksesori paling menghibur dari tiap bagian dirimu. Kamu bangga dengan keburukkanmu dan memaksa orang disekitarmu untuk menerima dirimu apa adanya.

Padahal taukah kamu, dibelakang kamu banyak sekali mulut yang berbicara. Bukan hal-hal yang membuatmu terlihat baik, tapi semakin memburuk dan semakin membusuk. Bahkan orang yang kamu bilang sahabatpun berkoar-koar disitu membicarakan keburukanmu. Mungkin orang yang kamu anggap saudara itu, yang kamu anggap seperti panutan feminisme itu bilang, kamu hanya berwarna hitam putih. Satu lagi, bahkan kamu tidak tahu kan dia yang di hati kamu itu mendekati siapa saja di saat jauh dari kamu. How does it feel.

Saya tidak ingin bicara banyak, berkonfrontasi dengan kamu. Saya masih berusaha dengan sangat untuk memaafkan kamu. Iya, saya termasuk dalam barisan sakit hati itu. Yang kamu bilang terlalu perasa dengan tiap tulisan kamu. Yang kamu bilang juga palsu. Saya memang perasa dan saya tidak pernah merasa orisinil dari segi manapun. Tidak juga sepandai kamu, apalagi tentunya dalam membicarakan kekurangan dan keburukan orang lain. Tidak ada sesuatu dari dalam diri saya yang merasa lebih baik dari kamu. Saya dan kamu sama buruknya. Tapi saya sudah mendapatkan buah dari keburukan yang saya tanam.

Saya ingin memperingatkan kamu sebelum terlambat. Tapi sebagian besar diri saya menantikan saat kamu diremukkan oleh buah dari keburukan dirimu sendiri. Saya ingin tertawa keras-keras saat itu terjadi. Saat kamu terpaksa menjahit mulut kamu erat-erat. Dan orang-orang menolak kamu karena sakit hati yang mereka rasakan. Saat itu saya akan membeli cookies n cream oreo's di nanny pavilion dan tersenyum lebar. Menatap kamu dalam kehancuran. Hingga saat itu tiba, nikmati kotak pandora yang belum terbuka.


NB. Tolong kecilkan seditit volume suara kamu. Kamu tidak hidup di hutan, okay?!

Monday, September 28, 2009

Mail

A letter to email.

I've been sending a blog from email. And it feels good!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Dear world.

World.

How is your day now?

Masihkah ada anak-anak yang lupa dijemput ibunya, karena ibunya terlalu sibuk bekerja. Masih adakah remaja-remaja yang kebingungan karea periodenya mundur bahkan tidak datang sama sekali. Atau banyakkah orang yang seperti saya, muak dengan attitude orang lain yang dianggapnya sungguh sangat membanggakan? Dunia maih terasa panas untuk saya, secara hati dan secara jiwa. entah kapan saya baru bisa berbahasa santun seperti Paulo Coelho. Saya masih suka sekali mengeluh, memprotes semua yang terjadi. Padahal, bukankah semua sudah direncanakan seperti yang paling baik dari yang terbaik?

Mengingatkan lagi bahwa ada orang di luar sana yang terbentur seperti bemper. Antara harga diri dan kebahagiaan keluarganya. Tidak seberuntung saya, yang bekerja, makan dan tidur dibumbui rasa nyaman. Mengingatkan lagi kalau saya masih punya telinga-telinga yang mau mendengar kesulitan saya dan membantu memecahkannya.

Terimakasih ya mataharinya hari ini. Cantik dan indah. Membakar dengan keanggunan yang semarak. Dan inin lagi berterimakasih, karena saya merasakan matahari yang cukup ramah dengan teh botol dingin. Saya sudah bahagia...

Saya harap kamu juga.

Tuesday, September 22, 2009

Flat

Saya tahu, hidup saya flat.

Flat, SD, SMP, SMA, sekolah sesuai jadwal-tepat waktu. Lulus kuliah dengan nilai baik. Bekerja dengan baik. Semuanya FLAT.

Tapi karena itu saya sendiri tumbuh menjadi seorang yang flat. Alapagi sekarang, setelah kehidupan cinta terakhir berakhir dengan menyesakkan. Saya terbiasa lagi menjadi orang yang flat. Datar. Expresi-perasaan-hati. Semua datar serba biasa. Banyak yang menyalahartikan semua sifat datar saya, semua yang serba simle diartikan berlapis-lapis. Saya sekarang hanya ining begini, ya artinya saya menikmati hidup saya sekarang.

Manusia boleh berencana, tapi kenyataannya semua penentuan ada di tangan Tuhan. Tidak pernah bisa diintervensi, diubah atau ditarik lagi. Saya menyadari hal itu , maka inilah sikap saya pada hidup. Flat.

Saya tidak ingin lagi menggebu-gebu, pamer expresi yang pada akhirnya menyakiti saya saja. lagi lagi lagi. Dalam datarnya sikap saya, saya menemukan banyak keikhlasan yang dulu saya hemat-hemat saya pelit-lepit karena ingin menjalaninya sesuai dengan rencana saya.

Saya ingin jatuh cinta karena, orang itu sanggup membuat saya tertawa. Menawarkan perasaan yang sederhana tanpa balutan kemahalan yang berlebihan. Saya ingin jatuh cinta dalam kesederhanaan perasaan penuh penerimaan dan ikhlas. Supaya saya bisa menjadi diri saya sendiri. Percaya lagi pada diri saya, bahwa saya bisa menjadi orangyang lebih baik setiap hari-apapun caranya bagaimanapun jalannya.

Saya ingin jatuh cinta, pada orang yang mencintai saya dalam wujud kesederhanaan saya yang datar ini.

Sunday, September 20, 2009

Dear morning sunlight.

Saya bukan manusia pecinta pagi, tapi cahaya pagi ini tidak seperti biasanya. Memeluk begitu hangat. Bahkan dalam piyama jelek tanpa makup, kamu tetap terasa sama. Hangat dan bersahabat.

Awalnya, saya benci pagi hari, udaranya begitu angkuh. Dingin menusuk, cahanya matahrinya pun tidak pernah terasa hangat. Bahkan keindahannya tidak pernah terlihat cemerlang hingga suatu hari tangisku beakhir di penghujung gelap. Oh ternyata kamu begitu indah. Di hari-hariku bersama segelas minuman pahit, kamu biasanya begitu kejam, tidak perduli. Berjuta kerlingan mata dicuripun kamu tampak tidak bergeming. Tapi kini setiap kedipan matamu sepertinya untukku saja. Matahari pagi hangat yang tidak henti menarik bibir untuk tersenyum.

Tiba-tiba saja setiap hariku menunggu kamu, matahari pagi. Setiap sinarnya memandang langsung ke dalam tembok hatiku.

Tidak perlu menutupi apapun, aku akan tetap bersinar apapun jadinya kamu.

Aku hanya mencintai kamu, pagi yang ternyata selalu indah apapun keadaannya. Mendung atau hujanpun. Pagiku akan selalu cemerlang, bersinar, memeluk sejuk. Tidak perlu lagi memeluk lutut, mematut diri di depan cermin. Matahari pagi akan selalu menggandeng tanganku melalui setiap detik. Setiap detiknya untuk selamanya.

Mi, so much happened lately.

Mi,
So much happened lately.

Di detik ketika semua susunan masa depan hancur. Hingga menemukan kembali identitas diri. Mencintai diri sendiri lebih dahulu.

Aku ingat dulu kamu selalu bilang : "Kamu tuh belum dewasa, belom boleh memutuskan semuanya sendiri.". Dan tiap kali kamu bilang gitu, aku menjawab ngambek-cemberut. Akhirnya aku mengerti itu semua. Baru beberapa waktu ini, aku baru mengerti. Apa artinya jadi diri sendiri ketika tahu rasanya terpaksa menjadi diri orang lain. Dan aku baru sadar arti mengambil keputusan ketika keutusan itu begitu menyakitkan-dulu aku tidak menyadari itu.

Mi, kita terlalu cepet ketemu. Terlalu cepet berpisah-yet banyak sekali yang aku pelajari dari kamu. Artinya tiap detail perhatian yang kecil, tiap detik tawa yang berharga. Dan tiap detik aku merasa kamu benar.

Lalu kemarin sempat lupa, sekitar waktu itu adalah waktu pertengkaran terakhir kita. Yang tiap bantingan pintunya masih terasa begitu dekat di telingaku. Yang tiap kata menyakitnkannya masih terngiang-ngiang jelas sekali. Masih menyesal belum meminta maaf, tapi aku yakin kamu kan pasti sudah memaafkan aku disana.

Satu lagi, kamu benar. Aku jatuh cinta lagi,lagi,lagi. Cinta itu ngga pernah bisa dikotak-kotakkan jadi pertama kedua ketiga. setiap kali jatuh rasanya berbeda. Tapi satu juga yang benar, setiap kali aku jatuh, aku semakin-makin percaya akan cinta. Kadang suka bertanya-tanya. Kalau aku ketemu kamu di umur aku yang segini, apakah aku akantetap jatuh cinta sama kamu. Atau kamu akankan sesayang itu padaku. Kita ngga akan pernah tau jawabannya.

Mi,
Terimakasih untuk selalu hidup dalam tiap kenangan, dan terus meyakinkan aku untuk jatuh cinta lagi lagi lagi.

Monday, September 07, 2009

Love letter

Dear,
Ingatkan dirimu dulu, bagaimana dulu setengah mati kamu membenciku. Mencibir di sudut mata, tenggelam di sudut ruangan ketika aku lewat. Terlalu complicated, kamu mahluk yang terlalu canggih untukku. Komplex yang kubenci-mahal. Perempuan yang tidak pernah ingin kuraih. Tidak pernah sedikitpun aku melihat cahaya terbit dari sudut itu. Lalu ingatkan lagi dengan dirimu yang lalu menangis tersedu-sedu sendirian. Tengah putus cinta dengan airmata di pipi. Yang ketika aku berusaha tersenyum, malah kamu menangis tersedu-sedu. Aku, laki-laki benci airmata.Tapi airmatamu yang membuat duniaku langusng jungir balik menggelepar. Saat itu, aku baru melihat kerlip yang indah.

Lalu, tiba-tiba kita menyanyikan lagu yang sama. Lalu semua komplikasi mendadak sirna. Kamu yang cemerlang terang dengan warna emas dan fuschia mengkilap, tiba2 berpendar menjadi hitam putih dengan deretan detail sederhana yang mudah kumengerti. yang kukira selalu glamour dan meledak-ledak di tiap jengkalya ternyata begitu sederhana dan tenang seperti bruelle caramell kesukaanmu.

Dan semua begitu mudah kucerna, begitu lembut dan manis untuk kujalani. Tidap detik tidak pernah sulit. Aku kira kamu punya mimpi untuk berlari di Paris dengan sekantung sepatu Chanel. Ternyata, aku menilai begitu jauh hingga kamu dan muka jutek datarmu bilang, kalau kamu hanya ingin membaca buku di sebuah teras bersamaku setiap sore nanti. Kukira kamu bercanda. Hingga setiap soreku habis menemanimu berkencan dengan buku-buku tebal itu yangberhasil membuat kantukmu menyala si pangkuanku. entah kamu sengaja atau tidak, tapi aku menikmati setiap detik yang berjalan hanya dengan melihat ekspresi bahagia wajahmu setiap menyelesaikan buku.

Lalu aku terbawa, terlalu aman dan nyaman. Aku mulai bosan dalam kesederhanaanmu. Aku bosan menemanimu di teras setiap hari. Aku bosan-hingga lupa, dalam setiap tahun yang berjalan. Mengira kamu tidak berubah dan menungguku selalu disitu. Mengira aku bisa sesekali berubah rasa dari merah ke biu lalu menjelajah negeri hijau tua sesuka hatiku. Toh, kamu selalu ada. KAmu kan selalu disana-janjimu takkan kau tamatkan ceritamu tanpa aku. Tanpa kusadari akulah yang lama-lama membuatmu padam. Awalnya begitu terang, lalu sedikit meredup dan hilang samasekali. Bodohnya akubaru menyadari semuanya sudah hilang ketika apinya padam. Kamu pergi, pulang kepada kebahagiaan tanpa akhir. dengan bertanya-tanya apa yang kamu inginkan.

Dalam amarah dan berontak aku bertanya-tanya. Apa yang kamu inginkan. Dalam penasaranku, aku berusaha membentuk sejuta dirimu dalam perempuan lain yang kukiara akan sesederhana dirimu. Dan lagi-lagi aku terkejut. Ternyata dalam kesederhanaanmu, kamu adalah identitas yang pelik, komplex bahkan aku mungkin tidak mungkin menciptakan sederhana dalam hiduplu sendiri.

Dan ini, adalah suratku yang kuterbangkan bersama angin. KUttupkan riduku bersama bintang-bintang di atas teras tempat kamu selalu tertidur. BErharap suatu hari kamu akan tertidur lagi di pangkuanku. Sesalku melewatkan kesederhanaanmu, akan kubuang jauh karena aku tahu kamu selalu mencintaiku untuk diriku, yang selalu kamu katakan tiap malam di tahun tahun pernikahan kita. Apapun yang aku lalkukan, kamu yang mmenerima bahagia beserta nilai di dalamnya.

Hari ini, dadaku berdegup kencang. Aku merindukanmu disaat aku terbelit dalam realita yang membingungkan. Aku membutuhkanmu untuk lagi-lagi menerangkan konsep sederhana. Aku laki-laki dan kini aku menangis merindukanmu.

Jika aku bisa mengulang lagi. Aku tidak keberatan mengulang setiap hari. Walau dalam tiap hari kamu akan melupakan keberadaanku saat kamu bangun. Jika setiap hari yang kamu lakukan hanya tersenyum kosong, memandang langit tanpa expresi.

In pain, You show your bless.

Dalam keheningan subuh yang kelabu, Kau ungkapkan rahasia yang kau tulis dalam-dalam di hatiku diam-diam. Aku tahu dengan pasti(akhirnya);

"Kau pencipta akhir yang bahagia, bila akhirnya tidak bahagia, maka pastikan itu bukan akhir".

Jika dalam diam dan seturut, aku bisa menjadi saluran berkat dan inspirasi. Ajar aku, Tuhan untuk bisa diam tanpa mempertanyakan dengan galak apa rencanamu. Ajari aku untuk menerima dan pasrah, bahwa definisi bahagiaku bukanlah bahagiaMu. Ajar aku bahwa kehilangan adalah proses menuju kesempurnaan pemilikan. Ajar aku bahwa dengan memberikan kebahagiaan, maka Kau sendirilah yang akan memberikan bahagiaku milikku.

Taklukan hatiku, agar aku mau tunduk. Agarku lariku henti, dan aku berjalan tenang. membiarkan bayangan hitam menyelubungiku-meraihku untuk memecah seluruh tubuhku. Yakinkan hatiku, bahwa kau akan membentuk identitasku kembali dalam tiap titiknya.

Sadarkan diriku, Tuhan. Aku tidak memiliki apa-apa untuk dipertahankan. Dan tidak akan membawa apapun nanti. Ajarkan diri untuk rela, menerima sakit sebagai bagian dari proses untuk melengkapi diriku. Sebagai proses berkembang terbaik-hadiah dari-Mu. Buang rasa lelah yang lama kelamaan menyakiti bukan hanya diriku, tapi orang lain yang menyayangiku. Beriku extra sabar untuk menghadapi apa yang selama ini melelahkanku. Mengetahui kalau kelelahanku tidak akan mengalahkanku untuk menyambung tiap mili kebahagiaan dari Mu. bahkan ketika nanti kuremuk-bahkan ketikaku nanti hilang.

Beri terus kekuatan agar sampai akhir nanti, tembok ini akan kuat untuk terus melukis senyum di wajah mereka-orang orang yang aku cintai.

Jadikan aku kanvasmu untuk melukis indah dan setiamu hingga saatnya nanti aku harus pulang menuju kebahagiaan yang selamanya.

Amin.

Thursday, August 27, 2009

Mulai melukis lagi dengan kata-kata.

Sudah begitu lama tidak menulis, menyimpan rapat-rapat rahasia di dalam hati sendiri rasanya saya ingin mulai menulis lagi. Menulis tentang warna-warna baru yang tidak pernah saya tahu tiba-tiba muncul dalam hidup begitu saja.

Saya membaca lagi awal-awal saya mulai belajar menulis, tulisan singkat-curhat tanpa tanggung jawab. Lalu ada lagi tulisan-tulisan amarah dan kebencian yang saya tahu ternyata semua percuma. Ada lagi kata-kata yang tidak pantas terucap. Tapi terucap saja dalam baris kata. Ternyata saya sudah cukup banyak beajar tanpa berbagi. Sendiri tanpa ingin ditemani. Tapi sekarang rasanya saya rindu sekali, menguntai lagi kata-kata manis yang untuk saya sendiri. yang berkenan menghibur menginspirasi tanpa harus menyakiti hati. Hal yang dibagi adalah yang baik dan manis, yang pahit kita campur dengan gula-gula warna jelita supaya menarik. Indah.

Saya dulu pernah bilang tidak ingin berubah. Selalu ingin tetap sama. Kini saya menyadari ; perubahan memang sulit tapi lebih sulit untuk selalu tetap sama. Bahkan pohon cabai yang idak berapa tinggi pun bertumbuh berubah. Maka, mari kita mulai lagi bercerita membagi kebijaksanaan dan kebahagiaan. menjadikan tiap cerita sebagai doa yang tanpa akhir.

Semoga hidup semanis apa yang ingin saya tulis untuk saya dan kamu.

Tuesday, April 07, 2009

Golput.

Menuju Pemilu 9 April 2009.
Kepada temen2 yang bergolput jangan lupa ke TPS terdekat untuk merusak kertas suara supaya kertas suaranya tidak disalah gunakan. Ayo... Cabcusss!

Masih inget kalo kita harus bersyukur juga udah bagus.

Saya tertegun ketika membaca ulang catatan filsafat saya ketika masih kuliah S1.

We must add in a complete life. One swallow does not make a summer, nor does one day; and so too one day, or a short time, does not make a man blessed and happy
-Socrates

Complete-Lengkap. Apa yang bikin kehidupan ini lengkap? Untuk saya, lengkap itu keseimbangan. Antara sakit dan sehat. Antara sedih dan senang. Semuanya lengkap berkesinambungan. keseimbangan pula antara proses dan hasil. Saya terbiasa menjalani hidup begitu strict, begitu galak pada diri sendiri, begitu haus akan hasil yang terus-terusan ingin diraih karena banyaknya proses yang saya lakukan. Hingga saya lupa untuk bersyukur. Saya punya rasa syukur yang tak tersampaikan banyak sekali.

Hingga saya tak sengaja membaca diary adik perempuan saya. Diary itu terbuka dan banyak menguak hal-hal yang tidak saya tahu. Dan satu hal yang paling membuat saya sedih sekaligus terkesima adalah kalimat :

"Aku ngga akan pernah bisa jadi apa-apa kalau dibandingin sama kaka aku, selalu kalah."

Sebagai anak paling besar, saya lupa. Mungkin saya terlalu tinggi menetapkan standard. Supaya adik-adik saya selalu lebih baik dari saya. Tapi kalau semua harus lebih baik dari saya, lalu lebih baik itu harus seperti apa. Dan saya tiba-tiba merasa lupa bersyukur. Apa yang sudah saya raih sekarang ini masih harus saya syukuri terus menerus.

Punya pekerjaan yang menyenangkan, saya dibayar untuk mendengarkan radio. Saya dibayar untuk bersenang-senang. Apa lagi yang sebenarnya saya keluhkan. Gaji yang lumayan bila saya tidak terlalu boros dan disiplin. Saya akan mampu membeli sepasang sepatu sebulan sekali, dan menabung secukupnya. Clubbing bersama sering. Menonton konser gratis. Makan siang gratis di kantor. Fasilitas mess yang murah. Jam kantor ngga mengikat - cuman jam absen ngga bisa diganggu gugat. Internet bebas 24 Jam. Sering dapet CD gratis. Sering dapet temen baru.

Apa sih yang harus saya keluhkan? Emangnya saya pengen apa sih? Digaji 10 juta sebulan sambil ongkang2 kaki? Huhuhuhuhu... *kadang saya kesel sama diri saya sendiri ini.

Saya melihat keatas, hingga lupa kalau di sekitar saya sendiri masih banyak yang tidak seberuntung saya. Ah lupa. Saya lupa bersyukur atas keadaan saya.

Friday, April 03, 2009

Kecoak

Sepotong pembicaraan antara saya dan si pacar.

SP (si pacar) : Sayang tadi malem aku ngga bisa tidur.
S (Saya) : Kenapa?
SP : TAdi malem ada kecoak, trus kecoaknya lewat di depan TV aku langsung merinding. Berdiri di atas tempat tidur sambil pegang sapu lidi. Trus aku sabet. Pas aku sabet dia pake sapulidi. Eh tiba-tiba dia muncul ewat samping Tivi dan aku langsung tereak AAAAAAAA.

FYI, pacar saya ini tingginya 185cm dengan berat badan 85kg. Dan takut kecoak.

SP : Udah gitu yah yank. BAyangin mukanya manggut-manggut itu bikin aku merinding Hiiiii...


Tuesday, March 31, 2009

Status.

Pacar saya kemarin cerita, kalau seorang temannya ada yang berselisih.

Masalahnya sepela : apalagi sih kalo bukan cinta.

Sebut saja si A dan B. Dua duanya cewek yang bersahabat. Lalu, Si A punya mantan bernama C. Pendek kata akhirnya si C mendekati B. Entah kenapa si A yang jadi panas seperti duduk diatas kompor. JAdi kalangkabut karena mantan pacarnya mendekati sahabatnya. Ngambek dan ngamuk ngga jelas, merasa sahabatnya berkhianat. Mengkritik tiap kemesraan dan expresi B kepada C.

Saya jadi ingat pengalaman saya dulu. Mungkin bedanya, saya tidak jalan dengan mantan pacarnya (was) sahabat saya. Pertimbangan saya, saya sudah punya pacar-nothin else. Tapi (was) sahabat saya itu marah-marah abis-abisan pada saya.

"Gue udah cukup sakit pacaran dengan cowok brengsek yang sakit jiwa, ngga perlu lagi disakitin sahabat sendiri." gitu kata-katanya keluar menyakitkan tanpa fakta.

Mungkin curhat sama teman-teman yang lain juga begitu. Membuat saya merasa seperti cewek yang suka mengganggu hubungan orang lain. Cih... But I dont really care. Im a creative person, people like me are talking about idea. Those kind of people, loser - they are talking about others.

Tidak bijak memang, berkencan dengan mantan pacar sahabat. Tapi saya merasa menyesal sudah minta maaf karena saya tidak merasa bersalah. Kenapa : Saya ngga berkhianat, saya kan ngga jalan sama mantannya dia, lalu itu kan sudah mantan pacar-tidak ada status apa-apa lagi, kenapa harus panas. Saya jadi tertawa sendiri ketika setelah (was) sahabat saya itu marah-marah pada saya lalu 2 bulan kemudian dia jalan lagi dengan mantan pacarnya yang mengajak saya jalan. Menjilat ludah sendiri? KEbanyakan orang kaya gitu. Saya tidak menunjuk orang, karena ketika kita menujuk orang lain, 4 jari kita yang lain menunjuk diri sendiri.

MAsalah saya dengan (was) sahabat saya itu sudah selesai. Sayapun tidak ingin mengungkit lagi. Ini hanya sekedar intermezo diantara hari-hari saya yang tidak ada kerjaan dan makan gaji buta ini.

Friday, March 27, 2009

Tips memilih partai dalam pemilu.

Ini saya tulis karena saya kesal geram dan merasa terganggu dengan kampanye-kampanye yangdiadakan di sekitar rumah saya. Jangan salahkan saya kalo rumah saya jadi ramai gara-gara kampanye. KArena rumah saya terletak di sekitaran Gasibu. JAdinya kalo ada keramaian di gasibu. Yang tadi siang bikin makin emosi karena ketika saya pergi ke kantor salah seorang peserta kampanye ada yang nyolek saya. PEngen marah tapi percuma, mendig saya tulis aja.

1. Jangan pilih Partai yang pesertanya nyolek2 orang. Karena artinya dia ngga bisa ngatur manusia-manusia yang kampanye. apalagi ngatur rakyat. JANGAN MIMPI.
2. Jangan pilih partai yang kampanyenya pake Dangdut. Karena itu artinya dia bakal mempraktekkan cara2 lama. Kenapa harus pake musik, dan mudiknya harus dangdut yang goyangannya nyerempet2 dan bajunya ketat bin merecet.
3. Jangan pilih partai yang ngajak anak-anak kampanye. Jelas kan exploitasi.
4. Jangan piluh partai yang calegnya korupsi. Walau oknum tetep aja. Jangan dipilih.
5. Jangan pilih partai yang belom pernah ikut pemilu. Dia bilang kami tida korupsi. Kenyataannya kan dia belom pernah ikutan.
6. Jangan pilih partai yang kampanyenya bikin macet. Ngatur massanya aja ngga bisa, apalagi ngatur rakyat.
7. Jangan pilih partai yang pemimpin partainya ngomong kaya muntah ga pake perhitungan.
8. Jangan pilih partai yang bilang akan menurunkan harga BBM. BBM tuh wajar kalo makin lama makin mahal. Demand meningkat persediaan makin langka. Belajar ekonomi dulu.
9. Jangan pilih partai yang pemimpinnya gontok2an.
10. Jangan pilih partai yang poster calegnya merusak ketertiban dan keindahan kota.

Jadi milih yang mana. GA USAH MILIH.

Wednesday, March 25, 2009

Komedi

Hidup adalah komedi dalam berbagai stagenya. Kemarin saya membintangi komedi hidup yang sungguh sangat menggelikan.

Saya pergi pagi-pagi buta mungkin subuh-subuh yang dinginnya menusuk tulang. Dan guess what, saya lupa bawa jaket, akhirnya saya memakai jaket dekil yang ada di mobil saya. LAlu saya naik mobil, dengan supir ( dia Manager PR saya) yang sedang kambuh asma dan mengantuk berat. Kita terpaksa berhenti beberapa kali untuk mengusir kantuk. Saya langsung berpikir, kalau begini, kenapa tadi ngga berangkat lebih pagi, ngga perlu kumpul jam 3 pagi segala. Damn!

LAlu di jam setengah 7 pagi saya baru sampai di pintu tol pondokgede timur. Ngga sampe ke pintu tolnya hanya sampai ke km 10. Mobilnya menabrak. JAdi hartus diderek dan dibawa ke jasamarga yangbercamur terminal. Panas (percaya atau ngga jkt jam stengah 7 panas bgt). Dan harus luntang lantung nunggu taxi, ngga ada tempat duduk. Okay.

Setelah mendapat taxi, saya melaju ke stasiun TV yang dituju. Mulai melaksanakan tugas2 menemui musisi-musisi yang harus saya dapatkan IDnya. Dan saya baru menyadari, mereka si selebriti punya 1000 cara untuk membuat kita selalu menunggu lama. Dan saya baru tahu kalau kebanyakan manager atis itu lebih sok daripada selebnya. Saya memang masih polos di dunia artis ini. Huff...

6 jam mengerjakan tugas tanpa henti, keringet dimana-mana. Dan kebosanan tiadatara, saya akhirnya bisa pulang. Saya udah ngga tahan pengen pulang, pengen makan di rumah. Ternyata ngga semudah itu. Komedi belum berakhir. Salah jalan 2 kali karena salahnya petunju dari PR saya tercinta yang seharian sudah bikin saya hampir gila, dan Saya harus menunggu PR saya menderek mobilnya. Saya tidak keberatan awalnya tapi ternyata menunggu itu menyebalkan sekali ya. Perjalanan yang lama, saya meninggalkan stasiun TV jam 4 sore dan sampai bandung jam 11 malam.

Akhirnya sampai bandung, lalu masih mengerjakan sesuatu. Dan bertengkar dengan pacar. lalu tidur dengan airmata.

Komedi.

No.

Its tragedy!