A letter to email.
I've been sending a blog from email. And it feels good!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Dear...
As meangingful as full as the happines can be.
As Light as feather taken by winds.
Writer
- Reading Year
- Bandung, West Java, Indonesia
- I want everyone in Indoesia have the luxury of reading. Watching the world from a book.
Monday, September 28, 2009
Dear world.
World.
How is your day now?
Masihkah ada anak-anak yang lupa dijemput ibunya, karena ibunya terlalu sibuk bekerja. Masih adakah remaja-remaja yang kebingungan karea periodenya mundur bahkan tidak datang sama sekali. Atau banyakkah orang yang seperti saya, muak dengan attitude orang lain yang dianggapnya sungguh sangat membanggakan? Dunia maih terasa panas untuk saya, secara hati dan secara jiwa. entah kapan saya baru bisa berbahasa santun seperti Paulo Coelho. Saya masih suka sekali mengeluh, memprotes semua yang terjadi. Padahal, bukankah semua sudah direncanakan seperti yang paling baik dari yang terbaik?
Mengingatkan lagi bahwa ada orang di luar sana yang terbentur seperti bemper. Antara harga diri dan kebahagiaan keluarganya. Tidak seberuntung saya, yang bekerja, makan dan tidur dibumbui rasa nyaman. Mengingatkan lagi kalau saya masih punya telinga-telinga yang mau mendengar kesulitan saya dan membantu memecahkannya.
Terimakasih ya mataharinya hari ini. Cantik dan indah. Membakar dengan keanggunan yang semarak. Dan inin lagi berterimakasih, karena saya merasakan matahari yang cukup ramah dengan teh botol dingin. Saya sudah bahagia...
Saya harap kamu juga.
Posted by
Reading Year
at
3:07 PM
0
comments
Tuesday, September 22, 2009
Flat
Saya tahu, hidup saya flat.
Flat, SD, SMP, SMA, sekolah sesuai jadwal-tepat waktu. Lulus kuliah dengan nilai baik. Bekerja dengan baik. Semuanya FLAT.
Tapi karena itu saya sendiri tumbuh menjadi seorang yang flat. Alapagi sekarang, setelah kehidupan cinta terakhir berakhir dengan menyesakkan. Saya terbiasa lagi menjadi orang yang flat. Datar. Expresi-perasaan-hati. Semua datar serba biasa. Banyak yang menyalahartikan semua sifat datar saya, semua yang serba simle diartikan berlapis-lapis. Saya sekarang hanya ining begini, ya artinya saya menikmati hidup saya sekarang.
Manusia boleh berencana, tapi kenyataannya semua penentuan ada di tangan Tuhan. Tidak pernah bisa diintervensi, diubah atau ditarik lagi. Saya menyadari hal itu , maka inilah sikap saya pada hidup. Flat.
Saya tidak ingin lagi menggebu-gebu, pamer expresi yang pada akhirnya menyakiti saya saja. lagi lagi lagi. Dalam datarnya sikap saya, saya menemukan banyak keikhlasan yang dulu saya hemat-hemat saya pelit-lepit karena ingin menjalaninya sesuai dengan rencana saya.
Saya ingin jatuh cinta karena, orang itu sanggup membuat saya tertawa. Menawarkan perasaan yang sederhana tanpa balutan kemahalan yang berlebihan. Saya ingin jatuh cinta dalam kesederhanaan perasaan penuh penerimaan dan ikhlas. Supaya saya bisa menjadi diri saya sendiri. Percaya lagi pada diri saya, bahwa saya bisa menjadi orangyang lebih baik setiap hari-apapun caranya bagaimanapun jalannya.
Saya ingin jatuh cinta, pada orang yang mencintai saya dalam wujud kesederhanaan saya yang datar ini.
Posted by
Reading Year
at
12:05 AM
0
comments
Sunday, September 20, 2009
Dear morning sunlight.
Saya bukan manusia pecinta pagi, tapi cahaya pagi ini tidak seperti biasanya. Memeluk begitu hangat. Bahkan dalam piyama jelek tanpa makup, kamu tetap terasa sama. Hangat dan bersahabat.
Awalnya, saya benci pagi hari, udaranya begitu angkuh. Dingin menusuk, cahanya matahrinya pun tidak pernah terasa hangat. Bahkan keindahannya tidak pernah terlihat cemerlang hingga suatu hari tangisku beakhir di penghujung gelap. Oh ternyata kamu begitu indah. Di hari-hariku bersama segelas minuman pahit, kamu biasanya begitu kejam, tidak perduli. Berjuta kerlingan mata dicuripun kamu tampak tidak bergeming. Tapi kini setiap kedipan matamu sepertinya untukku saja. Matahari pagi hangat yang tidak henti menarik bibir untuk tersenyum.
Tiba-tiba saja setiap hariku menunggu kamu, matahari pagi. Setiap sinarnya memandang langsung ke dalam tembok hatiku.
Tidak perlu menutupi apapun, aku akan tetap bersinar apapun jadinya kamu.
Aku hanya mencintai kamu, pagi yang ternyata selalu indah apapun keadaannya. Mendung atau hujanpun. Pagiku akan selalu cemerlang, bersinar, memeluk sejuk. Tidak perlu lagi memeluk lutut, mematut diri di depan cermin. Matahari pagi akan selalu menggandeng tanganku melalui setiap detik. Setiap detiknya untuk selamanya.
Posted by
Reading Year
at
10:06 PM
0
comments
Mi, so much happened lately.
Mi,
So much happened lately.
Di detik ketika semua susunan masa depan hancur. Hingga menemukan kembali identitas diri. Mencintai diri sendiri lebih dahulu.
Aku ingat dulu kamu selalu bilang : "Kamu tuh belum dewasa, belom boleh memutuskan semuanya sendiri.". Dan tiap kali kamu bilang gitu, aku menjawab ngambek-cemberut. Akhirnya aku mengerti itu semua. Baru beberapa waktu ini, aku baru mengerti. Apa artinya jadi diri sendiri ketika tahu rasanya terpaksa menjadi diri orang lain. Dan aku baru sadar arti mengambil keputusan ketika keutusan itu begitu menyakitkan-dulu aku tidak menyadari itu.
Mi, kita terlalu cepet ketemu. Terlalu cepet berpisah-yet banyak sekali yang aku pelajari dari kamu. Artinya tiap detail perhatian yang kecil, tiap detik tawa yang berharga. Dan tiap detik aku merasa kamu benar.
Lalu kemarin sempat lupa, sekitar waktu itu adalah waktu pertengkaran terakhir kita. Yang tiap bantingan pintunya masih terasa begitu dekat di telingaku. Yang tiap kata menyakitnkannya masih terngiang-ngiang jelas sekali. Masih menyesal belum meminta maaf, tapi aku yakin kamu kan pasti sudah memaafkan aku disana.
Satu lagi, kamu benar. Aku jatuh cinta lagi,lagi,lagi. Cinta itu ngga pernah bisa dikotak-kotakkan jadi pertama kedua ketiga. setiap kali jatuh rasanya berbeda. Tapi satu juga yang benar, setiap kali aku jatuh, aku semakin-makin percaya akan cinta. Kadang suka bertanya-tanya. Kalau aku ketemu kamu di umur aku yang segini, apakah aku akantetap jatuh cinta sama kamu. Atau kamu akankan sesayang itu padaku. Kita ngga akan pernah tau jawabannya.
Mi,
Terimakasih untuk selalu hidup dalam tiap kenangan, dan terus meyakinkan aku untuk jatuh cinta lagi lagi lagi.
Posted by
Reading Year
at
9:44 PM
0
comments
Monday, September 07, 2009
Love letter
Dear,
Ingatkan dirimu dulu, bagaimana dulu setengah mati kamu membenciku. Mencibir di sudut mata, tenggelam di sudut ruangan ketika aku lewat. Terlalu complicated, kamu mahluk yang terlalu canggih untukku. Komplex yang kubenci-mahal. Perempuan yang tidak pernah ingin kuraih. Tidak pernah sedikitpun aku melihat cahaya terbit dari sudut itu. Lalu ingatkan lagi dengan dirimu yang lalu menangis tersedu-sedu sendirian. Tengah putus cinta dengan airmata di pipi. Yang ketika aku berusaha tersenyum, malah kamu menangis tersedu-sedu. Aku, laki-laki benci airmata.Tapi airmatamu yang membuat duniaku langusng jungir balik menggelepar. Saat itu, aku baru melihat kerlip yang indah.
Lalu, tiba-tiba kita menyanyikan lagu yang sama. Lalu semua komplikasi mendadak sirna. Kamu yang cemerlang terang dengan warna emas dan fuschia mengkilap, tiba2 berpendar menjadi hitam putih dengan deretan detail sederhana yang mudah kumengerti. yang kukira selalu glamour dan meledak-ledak di tiap jengkalya ternyata begitu sederhana dan tenang seperti bruelle caramell kesukaanmu.
Dan semua begitu mudah kucerna, begitu lembut dan manis untuk kujalani. Tidap detik tidak pernah sulit. Aku kira kamu punya mimpi untuk berlari di Paris dengan sekantung sepatu Chanel. Ternyata, aku menilai begitu jauh hingga kamu dan muka jutek datarmu bilang, kalau kamu hanya ingin membaca buku di sebuah teras bersamaku setiap sore nanti. Kukira kamu bercanda. Hingga setiap soreku habis menemanimu berkencan dengan buku-buku tebal itu yangberhasil membuat kantukmu menyala si pangkuanku. entah kamu sengaja atau tidak, tapi aku menikmati setiap detik yang berjalan hanya dengan melihat ekspresi bahagia wajahmu setiap menyelesaikan buku.
Lalu aku terbawa, terlalu aman dan nyaman. Aku mulai bosan dalam kesederhanaanmu. Aku bosan menemanimu di teras setiap hari. Aku bosan-hingga lupa, dalam setiap tahun yang berjalan. Mengira kamu tidak berubah dan menungguku selalu disitu. Mengira aku bisa sesekali berubah rasa dari merah ke biu lalu menjelajah negeri hijau tua sesuka hatiku. Toh, kamu selalu ada. KAmu kan selalu disana-janjimu takkan kau tamatkan ceritamu tanpa aku. Tanpa kusadari akulah yang lama-lama membuatmu padam. Awalnya begitu terang, lalu sedikit meredup dan hilang samasekali. Bodohnya akubaru menyadari semuanya sudah hilang ketika apinya padam. Kamu pergi, pulang kepada kebahagiaan tanpa akhir. dengan bertanya-tanya apa yang kamu inginkan.
Dalam amarah dan berontak aku bertanya-tanya. Apa yang kamu inginkan. Dalam penasaranku, aku berusaha membentuk sejuta dirimu dalam perempuan lain yang kukiara akan sesederhana dirimu. Dan lagi-lagi aku terkejut. Ternyata dalam kesederhanaanmu, kamu adalah identitas yang pelik, komplex bahkan aku mungkin tidak mungkin menciptakan sederhana dalam hiduplu sendiri.
Dan ini, adalah suratku yang kuterbangkan bersama angin. KUttupkan riduku bersama bintang-bintang di atas teras tempat kamu selalu tertidur. BErharap suatu hari kamu akan tertidur lagi di pangkuanku. Sesalku melewatkan kesederhanaanmu, akan kubuang jauh karena aku tahu kamu selalu mencintaiku untuk diriku, yang selalu kamu katakan tiap malam di tahun tahun pernikahan kita. Apapun yang aku lalkukan, kamu yang mmenerima bahagia beserta nilai di dalamnya.
Hari ini, dadaku berdegup kencang. Aku merindukanmu disaat aku terbelit dalam realita yang membingungkan. Aku membutuhkanmu untuk lagi-lagi menerangkan konsep sederhana. Aku laki-laki dan kini aku menangis merindukanmu.
Jika aku bisa mengulang lagi. Aku tidak keberatan mengulang setiap hari. Walau dalam tiap hari kamu akan melupakan keberadaanku saat kamu bangun. Jika setiap hari yang kamu lakukan hanya tersenyum kosong, memandang langit tanpa expresi.
Posted by
Reading Year
at
10:51 AM
0
comments
In pain, You show your bless.
Dalam keheningan subuh yang kelabu, Kau ungkapkan rahasia yang kau tulis dalam-dalam di hatiku diam-diam. Aku tahu dengan pasti(akhirnya);
"Kau pencipta akhir yang bahagia, bila akhirnya tidak bahagia, maka pastikan itu bukan akhir".
Jika dalam diam dan seturut, aku bisa menjadi saluran berkat dan inspirasi. Ajar aku, Tuhan untuk bisa diam tanpa mempertanyakan dengan galak apa rencanamu. Ajari aku untuk menerima dan pasrah, bahwa definisi bahagiaku bukanlah bahagiaMu. Ajar aku bahwa kehilangan adalah proses menuju kesempurnaan pemilikan. Ajar aku bahwa dengan memberikan kebahagiaan, maka Kau sendirilah yang akan memberikan bahagiaku milikku.
Taklukan hatiku, agar aku mau tunduk. Agarku lariku henti, dan aku berjalan tenang. membiarkan bayangan hitam menyelubungiku-meraihku untuk memecah seluruh tubuhku. Yakinkan hatiku, bahwa kau akan membentuk identitasku kembali dalam tiap titiknya.
Sadarkan diriku, Tuhan. Aku tidak memiliki apa-apa untuk dipertahankan. Dan tidak akan membawa apapun nanti. Ajarkan diri untuk rela, menerima sakit sebagai bagian dari proses untuk melengkapi diriku. Sebagai proses berkembang terbaik-hadiah dari-Mu. Buang rasa lelah yang lama kelamaan menyakiti bukan hanya diriku, tapi orang lain yang menyayangiku. Beriku extra sabar untuk menghadapi apa yang selama ini melelahkanku. Mengetahui kalau kelelahanku tidak akan mengalahkanku untuk menyambung tiap mili kebahagiaan dari Mu. bahkan ketika nanti kuremuk-bahkan ketikaku nanti hilang.
Beri terus kekuatan agar sampai akhir nanti, tembok ini akan kuat untuk terus melukis senyum di wajah mereka-orang orang yang aku cintai.
Jadikan aku kanvasmu untuk melukis indah dan setiamu hingga saatnya nanti aku harus pulang menuju kebahagiaan yang selamanya.
Amin.
Posted by
Reading Year
at
10:34 AM
0
comments
Thursday, August 27, 2009
Mulai melukis lagi dengan kata-kata.
Sudah begitu lama tidak menulis, menyimpan rapat-rapat rahasia di dalam hati sendiri rasanya saya ingin mulai menulis lagi. Menulis tentang warna-warna baru yang tidak pernah saya tahu tiba-tiba muncul dalam hidup begitu saja.
Saya membaca lagi awal-awal saya mulai belajar menulis, tulisan singkat-curhat tanpa tanggung jawab. Lalu ada lagi tulisan-tulisan amarah dan kebencian yang saya tahu ternyata semua percuma. Ada lagi kata-kata yang tidak pantas terucap. Tapi terucap saja dalam baris kata. Ternyata saya sudah cukup banyak beajar tanpa berbagi. Sendiri tanpa ingin ditemani. Tapi sekarang rasanya saya rindu sekali, menguntai lagi kata-kata manis yang untuk saya sendiri. yang berkenan menghibur menginspirasi tanpa harus menyakiti hati. Hal yang dibagi adalah yang baik dan manis, yang pahit kita campur dengan gula-gula warna jelita supaya menarik. Indah.
Saya dulu pernah bilang tidak ingin berubah. Selalu ingin tetap sama. Kini saya menyadari ; perubahan memang sulit tapi lebih sulit untuk selalu tetap sama. Bahkan pohon cabai yang idak berapa tinggi pun bertumbuh berubah. Maka, mari kita mulai lagi bercerita membagi kebijaksanaan dan kebahagiaan. menjadikan tiap cerita sebagai doa yang tanpa akhir.
Semoga hidup semanis apa yang ingin saya tulis untuk saya dan kamu.
Posted by
Reading Year
at
11:51 PM
0
comments
Tuesday, April 07, 2009
Golput.
Menuju Pemilu 9 April 2009.
Kepada temen2 yang bergolput jangan lupa ke TPS terdekat untuk merusak kertas suara supaya kertas suaranya tidak disalah gunakan. Ayo... Cabcusss!
Posted by
Reading Year
at
10:51 AM
1 comments
Masih inget kalo kita harus bersyukur juga udah bagus.
Saya tertegun ketika membaca ulang catatan filsafat saya ketika masih kuliah S1.
We must add in a complete life. One swallow does not make a summer, nor does one day; and so too one day, or a short time, does not make a man blessed and happy-Socrates
Complete-Lengkap. Apa yang bikin kehidupan ini lengkap? Untuk saya, lengkap itu keseimbangan. Antara sakit dan sehat. Antara sedih dan senang. Semuanya lengkap berkesinambungan. keseimbangan pula antara proses dan hasil. Saya terbiasa menjalani hidup begitu strict, begitu galak pada diri sendiri, begitu haus akan hasil yang terus-terusan ingin diraih karena banyaknya proses yang saya lakukan. Hingga saya lupa untuk bersyukur. Saya punya rasa syukur yang tak tersampaikan banyak sekali.
Hingga saya tak sengaja membaca diary adik perempuan saya. Diary itu terbuka dan banyak menguak hal-hal yang tidak saya tahu. Dan satu hal yang paling membuat saya sedih sekaligus terkesima adalah kalimat :
"Aku ngga akan pernah bisa jadi apa-apa kalau dibandingin sama kaka aku, selalu kalah."
Sebagai anak paling besar, saya lupa. Mungkin saya terlalu tinggi menetapkan standard. Supaya adik-adik saya selalu lebih baik dari saya. Tapi kalau semua harus lebih baik dari saya, lalu lebih baik itu harus seperti apa. Dan saya tiba-tiba merasa lupa bersyukur. Apa yang sudah saya raih sekarang ini masih harus saya syukuri terus menerus.
Punya pekerjaan yang menyenangkan, saya dibayar untuk mendengarkan radio. Saya dibayar untuk bersenang-senang. Apa lagi yang sebenarnya saya keluhkan. Gaji yang lumayan bila saya tidak terlalu boros dan disiplin. Saya akan mampu membeli sepasang sepatu sebulan sekali, dan menabung secukupnya. Clubbing bersama sering. Menonton konser gratis. Makan siang gratis di kantor. Fasilitas mess yang murah. Jam kantor ngga mengikat - cuman jam absen ngga bisa diganggu gugat. Internet bebas 24 Jam. Sering dapet CD gratis. Sering dapet temen baru.
Apa sih yang harus saya keluhkan? Emangnya saya pengen apa sih? Digaji 10 juta sebulan sambil ongkang2 kaki? Huhuhuhuhu... *kadang saya kesel sama diri saya sendiri ini.
Saya melihat keatas, hingga lupa kalau di sekitar saya sendiri masih banyak yang tidak seberuntung saya. Ah lupa. Saya lupa bersyukur atas keadaan saya.
Posted by
Reading Year
at
7:55 AM
1 comments
Friday, April 03, 2009
Kecoak
Sepotong pembicaraan antara saya dan si pacar.
SP (si pacar) : Sayang tadi malem aku ngga bisa tidur.
S (Saya) : Kenapa?
SP : TAdi malem ada kecoak, trus kecoaknya lewat di depan TV aku langsung merinding. Berdiri di atas tempat tidur sambil pegang sapu lidi. Trus aku sabet. Pas aku sabet dia pake sapulidi. Eh tiba-tiba dia muncul ewat samping Tivi dan aku langsung tereak AAAAAAAA.
FYI, pacar saya ini tingginya 185cm dengan berat badan 85kg. Dan takut kecoak.
SP : Udah gitu yah yank. BAyangin mukanya manggut-manggut itu bikin aku merinding Hiiiii...
Posted by
Reading Year
at
11:25 AM
1 comments
Tuesday, March 31, 2009
Status.
Pacar saya kemarin cerita, kalau seorang temannya ada yang berselisih.
Masalahnya sepela : apalagi sih kalo bukan cinta.
Sebut saja si A dan B. Dua duanya cewek yang bersahabat. Lalu, Si A punya mantan bernama C. Pendek kata akhirnya si C mendekati B. Entah kenapa si A yang jadi panas seperti duduk diatas kompor. JAdi kalangkabut karena mantan pacarnya mendekati sahabatnya. Ngambek dan ngamuk ngga jelas, merasa sahabatnya berkhianat. Mengkritik tiap kemesraan dan expresi B kepada C.
Saya jadi ingat pengalaman saya dulu. Mungkin bedanya, saya tidak jalan dengan mantan pacarnya (was) sahabat saya. Pertimbangan saya, saya sudah punya pacar-nothin else. Tapi (was) sahabat saya itu marah-marah abis-abisan pada saya.
"Gue udah cukup sakit pacaran dengan cowok brengsek yang sakit jiwa, ngga perlu lagi disakitin sahabat sendiri." gitu kata-katanya keluar menyakitkan tanpa fakta.
Mungkin curhat sama teman-teman yang lain juga begitu. Membuat saya merasa seperti cewek yang suka mengganggu hubungan orang lain. Cih... But I dont really care. Im a creative person, people like me are talking about idea. Those kind of people, loser - they are talking about others.
Tidak bijak memang, berkencan dengan mantan pacar sahabat. Tapi saya merasa menyesal sudah minta maaf karena saya tidak merasa bersalah. Kenapa : Saya ngga berkhianat, saya kan ngga jalan sama mantannya dia, lalu itu kan sudah mantan pacar-tidak ada status apa-apa lagi, kenapa harus panas. Saya jadi tertawa sendiri ketika setelah (was) sahabat saya itu marah-marah pada saya lalu 2 bulan kemudian dia jalan lagi dengan mantan pacarnya yang mengajak saya jalan. Menjilat ludah sendiri? KEbanyakan orang kaya gitu. Saya tidak menunjuk orang, karena ketika kita menujuk orang lain, 4 jari kita yang lain menunjuk diri sendiri.
MAsalah saya dengan (was) sahabat saya itu sudah selesai. Sayapun tidak ingin mengungkit lagi. Ini hanya sekedar intermezo diantara hari-hari saya yang tidak ada kerjaan dan makan gaji buta ini.
Posted by
Reading Year
at
7:49 AM
0
comments
Friday, March 27, 2009
Tips memilih partai dalam pemilu.
Ini saya tulis karena saya kesal geram dan merasa terganggu dengan kampanye-kampanye yangdiadakan di sekitar rumah saya. Jangan salahkan saya kalo rumah saya jadi ramai gara-gara kampanye. KArena rumah saya terletak di sekitaran Gasibu. JAdinya kalo ada keramaian di gasibu. Yang tadi siang bikin makin emosi karena ketika saya pergi ke kantor salah seorang peserta kampanye ada yang nyolek saya. PEngen marah tapi percuma, mendig saya tulis aja.
1. Jangan pilih Partai yang pesertanya nyolek2 orang. Karena artinya dia ngga bisa ngatur manusia-manusia yang kampanye. apalagi ngatur rakyat. JANGAN MIMPI.
2. Jangan pilih partai yang kampanyenya pake Dangdut. Karena itu artinya dia bakal mempraktekkan cara2 lama. Kenapa harus pake musik, dan mudiknya harus dangdut yang goyangannya nyerempet2 dan bajunya ketat bin merecet.
3. Jangan pilih partai yang ngajak anak-anak kampanye. Jelas kan exploitasi.
4. Jangan piluh partai yang calegnya korupsi. Walau oknum tetep aja. Jangan dipilih.
5. Jangan pilih partai yang belom pernah ikut pemilu. Dia bilang kami tida korupsi. Kenyataannya kan dia belom pernah ikutan.
6. Jangan pilih partai yang kampanyenya bikin macet. Ngatur massanya aja ngga bisa, apalagi ngatur rakyat.
7. Jangan pilih partai yang pemimpin partainya ngomong kaya muntah ga pake perhitungan.
8. Jangan pilih partai yang bilang akan menurunkan harga BBM. BBM tuh wajar kalo makin lama makin mahal. Demand meningkat persediaan makin langka. Belajar ekonomi dulu.
9. Jangan pilih partai yang pemimpinnya gontok2an.
10. Jangan pilih partai yang poster calegnya merusak ketertiban dan keindahan kota.
Jadi milih yang mana. GA USAH MILIH.
Posted by
Reading Year
at
7:02 AM
0
comments
Wednesday, March 25, 2009
Komedi
Hidup adalah komedi dalam berbagai stagenya. Kemarin saya membintangi komedi hidup yang sungguh sangat menggelikan.
Saya pergi pagi-pagi buta mungkin subuh-subuh yang dinginnya menusuk tulang. Dan guess what, saya lupa bawa jaket, akhirnya saya memakai jaket dekil yang ada di mobil saya. LAlu saya naik mobil, dengan supir ( dia Manager PR saya) yang sedang kambuh asma dan mengantuk berat. Kita terpaksa berhenti beberapa kali untuk mengusir kantuk. Saya langsung berpikir, kalau begini, kenapa tadi ngga berangkat lebih pagi, ngga perlu kumpul jam 3 pagi segala. Damn!
LAlu di jam setengah 7 pagi saya baru sampai di pintu tol pondokgede timur. Ngga sampe ke pintu tolnya hanya sampai ke km 10. Mobilnya menabrak. JAdi hartus diderek dan dibawa ke jasamarga yangbercamur terminal. Panas (percaya atau ngga jkt jam stengah 7 panas bgt). Dan harus luntang lantung nunggu taxi, ngga ada tempat duduk. Okay.
Setelah mendapat taxi, saya melaju ke stasiun TV yang dituju. Mulai melaksanakan tugas2 menemui musisi-musisi yang harus saya dapatkan IDnya. Dan saya baru menyadari, mereka si selebriti punya 1000 cara untuk membuat kita selalu menunggu lama. Dan saya baru tahu kalau kebanyakan manager atis itu lebih sok daripada selebnya. Saya memang masih polos di dunia artis ini. Huff...
6 jam mengerjakan tugas tanpa henti, keringet dimana-mana. Dan kebosanan tiadatara, saya akhirnya bisa pulang. Saya udah ngga tahan pengen pulang, pengen makan di rumah. Ternyata ngga semudah itu. Komedi belum berakhir. Salah jalan 2 kali karena salahnya petunju dari PR saya tercinta yang seharian sudah bikin saya hampir gila, dan Saya harus menunggu PR saya menderek mobilnya. Saya tidak keberatan awalnya tapi ternyata menunggu itu menyebalkan sekali ya. Perjalanan yang lama, saya meninggalkan stasiun TV jam 4 sore dan sampai bandung jam 11 malam.
Akhirnya sampai bandung, lalu masih mengerjakan sesuatu. Dan bertengkar dengan pacar. lalu tidur dengan airmata.
Komedi.
No.
Its tragedy!
Posted by
Reading Year
at
2:04 PM
0
comments
Monday, March 23, 2009
Ahlak dan Cumlaude itu ngga ada hubungannya.
Saya tersenyum sinis ketika ada salah seorang teman di kampus saya yang bilang : Percuma kalo cumlaude tapi ahlak jokok. Sata tahu, itu ditujukan pada saya. Saya hanya tersenyum membiarkan dia bicara sesukanya. Kembali melanjutkan makan saya di kantin kampus.
Saya tidak tahu, apakah saya akan menyesali kata-kata saya hari ini. Saya rasa, Cumlaude dan ahlak itu ngga ada hubungannya. Saya juga ngga tau apa arti ahlak itu sebenarnya, karena orang yang ngaku-ngaku berahlak yang nyindir saya (masa berahlak beraninya cuman nyindir) ,ngga bikin saya ngerti apa arti ahlak.
Terus saya barusan membuka sebuah tulisan di multiply. dia bilang jaman sekarang dosen bisa mengabulkan permintaan mahasiswanya yang genit. Idih, jangan menghakimi ya. Oknum tuh pasti yang bilang. Mahasiswa yang dianggap genit itu, ngga kaya kebanyakan orang bilang genit ya. Kenyataannya, dosen mana sih yang ngga suka sama mahasiswa yang komunikatif dan mau menerima kritik. Itu sih namanya ngga genit, itu namanya dewasa. Dan kalo temen saya yang berahlak itu memutuskan untuk bilang mahasiswa yang komunikatif itu genit ya terserah. semua orang bebas berpendapat. KEnyataannya kalau mahasiswa yang dianggap genit itu malah dapet Cum LAude dan Lulus lebih cepat. Itu artinya ada yang salah dengan ahlak si mahasiswa itu.
Kuliah ngga cuman 3 hari. Bukan modal genit doank bisa cepet lulus. butuh otak, nyali dan manage waktu yang super ketat. Otak buat belajar, nyali buat ngambil kuliah yang banyak n ngejalanin semua dengan serius, memanage waktu supaya semua seimbang.
JAdi kalo orang berahlak itu menganggap suskses itu akibat genit, ya silahkan. Saya ngga pengen berahlak kalo hasilnya cuman bisa nyindir orang yang lebih sukses dari saya. Trez cool.
Posted by
Reading Year
at
12:02 PM
0
comments
Friday, March 20, 2009
Saya rasa saya dikutuk.
Saya merasa saya dikutuk. Tadi malam saya tidur cukup larut dan 3 kali terbangun karena mimpi buruk saya berlanjut. Hal-hal yang saya takutkan untuk terjadi tergambar jelas di mimpi saya. Saya berusaha mengendap-endap keluar dari mimpi saya. MEnangis berharap tangisan bisa membawa saya keluar. Memohon seseorang memaksa saya bangun, tapi tidak ada yang membawa saya. Saya bangun tidur, dan menemukan tubuh saya bergetar. Kebanyakan orang bangun dan merasa segar. saya bangun dan kelelahan setengah mati.
Dan entah apakah ini sebuah komedi yang sungguh membuat saya takut untuk tertawa, atau kebetulan yang aneh. Saya mendengarkan lagu lenka. Saya mulai ragu, apakah selama ini saya sudah mencoba sesuatu yang bukan saya. Mencoba untuk hidup sesuai dengan arusnya. Mencoba mengaur hidup saya sesuai dengan apa yang ideal menurut orang lain. BAhkan sampai hal paling detail dalam hidup sayapun saya lupa. Saya sudah menjadi dia di depan kaca yang tersenyum, tanpa saya tahu apa alasannya dia tersenyum. Mungkin ini ujungnya. MUngkin saya sudah lelah.
Tapi saya masih ingin berjuang lagi. Saya tahu, we must fight a battle more than once to win it. Even it takes forever. Even im not win, at leat i try my best.
Mungkin saya hanya lelah. Membutuhkan sandaran dan pelukan. Banyak cinta lalu semangkuk besar eskrim dan semilir angin segar. Saya butuh istirahat hingga saya bisa menghadapi kamu-kamu-kamu lagi yang terus-terusan memaksa saya.
Gimme a break. I will never be tall. NEver be pretty. NEver be Her. I am me.
and surely Im happy and free being me.
Posted by
Reading Year
at
7:28 AM
0
comments
Wednesday, March 18, 2009
Its funny...
Its funny.
Thinking on the way you conquer my anger.
You just show up in front of my window, take me for a walk and say "Im sorry."
An the real funny thing is, I forgive you.
Posted by
Reading Year
at
7:16 AM
0
comments
Monday, March 16, 2009
Ingin diinginkan.
Saya merindu untuk diinginkan.
Untuk berbasa-basi diajak bicara.
Tidak ditelantarkan didiamkan seperti patung yang tak terlihat.
Bukan angin lalu yang didiamkan bersemilir tanpa tahu maknanya.
Saya menunggu diinginkan.
Untuk ditanya apa kabar atau di ajak bicara tidak penting.
Dan diramalkan masadepannya bahwa saya dimiliki.
Seperti di masalalalu dimana saya diinginkan atas dirisaya sendiri.
Saya ingin diinginkan.
Ingin diperhatikan dan merasakan sayang.
Dilarang melakukan hal yang membahayakan, dilarang menyakiti diri.
Bukannya dipisahkan dan dikata-katai terus-terusan.
For every once in a while, I really hate myself for being hated.
Posted by
Reading Year
at
12:22 PM
0
comments
Tuesday, March 10, 2009
Posesive-Obsesive
Wajar ngga sihhhh...
Saya cemburu sekali pada wanita-wanita yang dekat-dekat dengan pacar saya. MAntan pacar pertamanya yang chat sampai tengah malam sama si pacar. Seorang teman kuliahnya yang pernah dipersilahkan tidur di kamar si pacar dan masih punya panggilan kesayangan dari si pacar. Seorang kakak kelas si pacar yang dulu bikin si pacar rela jadi pacar ke dua.
Ah. PErasaan ini benar2 bikin kesal.
Posted by
Reading Year
at
1:10 PM
0
comments
Thursday, March 05, 2009
Mamah-mamah batak part 1
Ngga bermaksud SARA. Saya hanya pengen curhat aja. Sebagai orang batak, hubungan pacaran memang agak2 ribet dan bingung. Karena orang batak itu harus pacaran sama orang batak. Kalo ibu saya sih ngga masalah yang penting seagama. Ayah saya juga sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan masalah itu. Tapi ya gitu, walau ngga terlalu mempermasalahkannya, mereka selalu tampak senang kalau saya punya pacar batak dan seagama.
Lalu pendek kata, akhirnya saya pacaran dengan orang batak yang seagama. Lalu masalah-masalah yang ngga pernah muncul sebelumnya menjadi masalah. Waktu itu saya memang saya sedikit nakal dan sedikit menikmati hidup, if you know what I mean. Sedikit nakal dan coba-coba macem-macem, wajar saja kan sebagai anak muda kalau saya mulai sedikit dugem, sedikit tipsy dan sedikit party-party. Toh itu juga saya lakukan dengan bertanggungjawab. =)
Lalu tiba2 orangtuanya pacar saya itu kaget. Shock. Waktu mereka tahu saya ini anak gaul (baca anak cewek yang senengnya nongkrong2 ngga jelas, karokean di NAFF, dan main-main sama temen2nya dan sampe malem.). I thought it was like... Hey, I am on my early 20 and its owkay to get wild for a moment. Dan saya juga kan potongannya ngga kaya anak baik-baik yang pulang sebelum margrib. Lagian kerjaan saya menuntut saya untuk diam di kantor sampai larut kadang. Dan itu semua menjadi bencana.
Semua ikut komentar dalam gaya hidup saya. Mulai dari kata-kata yang enak didenger kuping sampe yang sayapun ngga sanggup mengatakannya karena saya seorang perempuan. Mamah-mamah batak memang sadis sodara2. Itu baru sedikit dari hal-hal lain yang bikin saya sebagai seorang manusia juga ikutan bingung. Mulai dari kasus ngga jadi nikah karena uang sinamot(mahar)nya kurang. Ada yang gara-gara mamahnya jabir (jahat bibir), melarang anaknya pacaran. macem-macem. Sampe yang ribut-ribut karena anaknya pacaran sama cewek ngga baik (seperti saya) dan dengan rajin menelepon anaknya kalo anaknya pulang diatas jam 9 ( seperti seseorang hahahahaha).
Ya itulah, mamah mamah batak part 1. di part 2 nanti saya akan menjamblangkan sifat2 mamah-mamah batak yang positif. Supaya kehhidupan kita semakin lancar. AMin.
Posted by
Reading Year
at
7:12 AM
0
comments
